Oleh: Ayu Puspa Nanda
Sudah dua hari saya mendapat tugas mengajar musikalisasi puisi di kelas 9. Huh, untung dalam sekejap saja saya berhasil membuat mereka langsung terpesona dan mengutuk mereka menjadi siswa yang haus akan ilmu. Awalnya mereka anggap musikalisasi puisi merupakan suatu hal asing namun mudah yang dapat mereka buat hanya dengan sekejap mata. Tapi nyatanya, kini mereka sadar betapa sulitnya membacakan sebuah puisi dengan indah sekaligus membuat aransemen musik serta lagu dari kalimat di tiap bait puisi.
Tetapi, dua hari ini terasa padat sesak. Setiap ada jam kosong, mereka selalu datang sambil tersenyum dan bertanya, "Ibu, kelompok saya memilih puisi yang ini. Bagaimana cara membacanya bu?" atau dengan kalimat seperti ini, "Bu, puisinya sudah kami pilih. Ternyata buat lagunya itu susah yah bu. Tapi kita mau tetap coba ko bu." Bukan hanya satu dua orang yang menghampiri, bahkan setiap perwakilan kelompok dari tiap kelas datang hanya untuk melihat saya membaca puisi. Mereka selalu tersenyum dan semakin bergairah untuk belajar. Mengajar kelas 9 memang bukan tugas saya sebagai guru PPL. Karena, tugas saya dan teman-teman hanyalah mengajar kelas 7 dan 8. Tapi seminggu ini, saya mengikhlaskan semuanya untuk mentransfer sedikit ilmu kepada siswa. Saya merasakan kebahagiaan ketika melihat mereka antusias belajar Bahasa Indonesia.
Saya bisa dibilang guru PPL yang tegas. Terutama di kelas 7. Hmm... Menghadapi kelas 7 seperti mengejar anak kecil yang sedang berlarian di taman. Sikap lembut saja tidak cukup. Bahkan, kelas 7 yang saya ajar dikenal sebagai kelas yang sangat-sangat-sangat. Untuk tersenyum selama dua jam pelajaran pun selalu gagal. Mereka hanya bisa mengantarkan senyuman saya dari ruang guru hingga pintu kelas mereka. Tetapi dua jam pelajaran di kelas 8 dan 9 sangatlah berbeda. Atmosfer kelas yang berwarna abu-abu seketika bisa saya buat menjadi biru. Begitu pula dengan kelas 8.
Sejujurnya, segala cara sudah saya upayakan. Hal itu akan berhasil jika saya harus memberikan ceramah umum kepada mereka kurang lebih 10 menit di awal pembelajaran. Tapi, kapan saya bisa mengajar dengan tenang. Kejadian dua hari inilah yang membuat miris keadaan. Dua jam pelajaran di kelas 9 saja bisa saya taklukan, namun mengapa hal ini tidak berlaku di kelas 7 yang sudah dua setengah bulan saya ajar.
Tetapi, di balik itu semua, saya mencintai mereka. Kelas 7.4, 7.5, dan 8.1. Hari ini, kelas 7.5 bisa membuat saya tersenyum karena kreatifitas mereka. Terima kasih karena telah membuat ibu puas akan kinerja kalian dalam bercerita menggunakan alat peraga. Hari ini kalian lucu. Pertahankan sikap ini sampai kita akhirnya berpisah nanti. November tidak akan lama, dan Desember mungkin kita sudah tak lagi bersama.

:D
begitulah seharusnya menjadi guru..
memberi contoh dengan berkarya,menunjukkan karya cipta untuk kemudian mereka tiru.
Murid bandel, mereka bandel karena belum ada yang bisa mereka jadikan panutan, dan ketika mereka menemukan suatu sosok yang mereka anggap pantas untuk mereka tiru, mereka akan mengkombinasikan kebandelan mereka dengan kreatifitas tanpa batas..
Good Luck Honey..
Terus berkarya.