Dia adalah Habib Gusti

Oleh: Ayu Puspa Nanda


Assalamualaikum...
Di blog ini, saya ingin menceritakan seseorang yang super dalam keluarga saya. Mungkin sebagian dari anda menebak orang yang saya maksud adalah orang tua saya. Tapi maaf, dugaan anda salah. Hal ini bukan berarti orang tua saya bukanlah orang yang super. Mereka memang super di hati saya. Tapi untuk saat ini, gelar super tersebut saya dedikasikan untuk sepupu laki-laki saya, Habib Gusti.


Habib atau Teguh. Entah sejak kapan nama itu berganti, seingat saya dulu ada yang pernah berdalih "Habib seperti ini, karena makna namanya terlalu berat." Namun, apalah arti sebuah nama. Hingga detik ini saya pun tidak percaya. Mungkin di antara anda lagi-lagi bertanya, mengapa saya menyebutkan "seperti ini" di awal kalimat. Baiklah, sudah saatnya saya mengungkapkan hal ini pada anda semua. Habib Gusti, seorang anak laki-laki yang teguh pendirian yang merupakan cucu kedua dari nenek dan kakek saya. Ia merupakan saudara sepupu laki-laki pertama yang menemani saya bermain sejak kecil. Saya lupa kapan ia lahir, tapi kalau tidak salah tanggal 2 April 1995 ia dilahirkan dari rahim ibunya dan tumbuh menjadi anak yang sehat. Ia lucu, gemuk, putih, dan manis. Tetapi, ketika ia sudah berusia 5 bulan, kami melihat adanya kejanggalan-kejanggalan pada dirinya. Ia sering menangis secara tidak wajar dengan suara yang sangat kencang. Ia pun sulit untuk berjalan waktu itu, dan ia mudah sekali tersinggung. Beberapa kali ia sering terjatuh dari tempat tidur. Dan parahnya, ia pun pernah jatuh dari tangga dan kakinya terselip diantara pegangan tangga, kalau tidak salah ketika ia sudah berusia satu tahun atau dua tahun. Waktu itu, saya hanya bisa melihat ia terjepit di tangga dari jendela kamar mama saya. Tetapi sebelum kejadian itu terjadi, Habib memang selalu mengeluarkan air liur dengan tidak disengaja dan hal itu selalu membuat baju-bajunya basah. Bahkan ketika ia belajar menulis, buku-bukunya selalu robek karena air liurnya sendiri. Oleh karena itu, mamanya selalu menyiapkan handuk kecil untuknya. Awalnya keluarga berpikir ini wajar, tapi lama-kelamaan air liur itu seringkali berbau. Dan ketika ia mulai tumbuh gigi, ternyata giginya lunak dan tidak keras seperti anak kebanyakan. Ia selalu menangis setiap kali ibunya menyikat gigi-giginya yang rapuh dan selalu mengeluarkan darah. Dulu, saya bukan orang yang terlalu paham akan kesakitan orang lain, bahkan saya tidak bisa merasakan kesakitan yang dialami sepupu saya itu. Ayahnya yang tahu tentang keadaan anaknya akhirnya membuat sekolah yang terdiri dari TK/RA, MI, MTS, dan MA. Hal ini tidak lain hanya untuk Habib semata, ia tidak mau anaknya dimasukan ke sekolah-sekolah luar biasa yang memang memiliki siswa yang rata-rata terganggu pikirannya. Ayahnya yakin, Habib berbeda. Habib itu cerdas, sama seperti anak lainnya.


Ketika ia TK/RA, saya ingat pernah mengajarinya menulis kala itu. Saya dulu masih duduk di bangku SD. Saya mengajari Habib bagaimana menulis huruf-huruf alfabet, bagaimana cara menggambar, dan membuat hal-hal lucu yang bisa membuatnya senang. Dulu, saya akui, sudah ada puluhan buku yang sobek begitu saja karena air liurnya. Saya pun tak jarang terkena air liurnya ketika sedang mengajarinya menulis. Tetapi, semangat Habib membuat saya selalu ingin bermain dengannya. Ia tidak malu untuk bertanya, walaupun ia tidak bisa berbicara dengan jelas. Misalnya begini, "teteh... yang ini gimana caranya?", orang-orang yang tidak sering bersamanya tidak akan mengerti apa yang sedang ia katakan, karena ia akan berbicara dengan kalimat yang berbunyi "eh... ang ni giyana cayana". Tapi, secara perlahan saya yang dulu masih sangat kecil berusaha untuk menjelaskan. Ku akui, dia memang cerdas. Dulu, ketika orang-orang belum mengenal komputer, kami berdua sudah pandai mengoperasikan komputer sejak tahun 1996. Bayangkan, betapa cerdasnya kami berdua waktu itu. Walaupun kami hanya bisa memainkan permainan-permainan sederhana dan mengetik satu demi satu huruf di layar cembung berwarna putih tersebut. Dan ketika saya kelas 4 SD, kira-kira tahun 1999, kami berdua berhasil meminkan permainan dari LOTUS dan menyelesaikan level-level sulit di sana. Bahkan kami selalu bermimpi, seandainya uang yang kami peroleh di permainan tersebut bisa keluar dari CPU, mungkin kami bisa langsung kaya!hehehe...


Semakin besar, ia sudah semakin sadar bahwa ia berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Saya pun sudah SMP dan sudah mulai jarang bermain dengannya, karena tugas yang selalu saja menumpuk setiap harinya. Ia tumbuh menjadi anak yang pemurung. Ia pun terlihat minder setiap kali bertemu dengan orang banyak. Ia seringkali bertanya pada ibunya, "mbu, enapa abib bgini?" Tapi ibunya pun seringkali sulit menjelaskan penyakitnya yang belum tau namanya apa. Yang jelas ibunya selalu berkata, "Ini pemberian dari Allah habib, dan Habib harus kuat dan sabar. Suatu saat Habib pasti sembuh. Percaya deh sama mbu."

Makin hari, keadaan ia semakin parah. Air liurnya bertambah banyak dan aromanya pun semakin tidak sedap. Ia pun sudah tumbuh besar dan menjalani kesehariannya sebagai murid SD/MI di sekolah ayahnya. Banyak orang yang mengucilkan dia. Bahkan hanya ada satu atau dua orang yang setia menemaninya saat bermain dan belajar di kelas. Melihat keadaan seperti ini, keluarga pun tidak tinggal diam. Kami membawa Habib ke dokter waktu itu. Dokter pun berkata, "Sarafnya terganggu. Harus dilakukan operasi." Kami semua kaget. Dan seingat saya, waktu itu kepala Habib dibelah dua. Otaknya dibersihkan, karena dokter bilang selain syaraf, ada lapisan orak yang sedikit mengerak di kepalanya. Bayangkan, tempurung kepala bagian belakang dibelah lalu dijahit kembali. Saya menangis waktu itu, melihat sepupu saya terbaring lemas dan berada di antara hidup dan mati. Tetapi ternyata Allah masih sayang. Ia berhasil melewati masa kritisnya. Alhamdulillah...

Kami berharap setelah operasi tersebut ia bisa sembuh dan berhasil menjalani hidupnya seperti anak-anak normal. Tetapi harapan kami berujung sia-sia. Ia semakin parah. Awalnya ia bisa berjalan normal, tapi kini ia selalu membanting tubuhnya ke belakang setiap 10 detik sekali. Ya Allah, cobaan apalagi ini. Saya pun pegal melihatnya. Saya seringkali melihat ia menangis di sudut ruangan. Tetapi Habib tetaplah Habib. Ia tumbuh menjadi anak yang rajin ibadah dan bekerja. Percaya atau tidak, ia paham setiap kali ayahnya memarahi ia dengan bahasa Arab atau Inggris. Kalau bukan cerdas, apalagi? Tapi, banyak keterbatasan yang harus ia lawan. Setiap jam shalat, ia seringkali ke mushola sekolah dan menjadi muadzin. Saya seringkali menangis sambil tersenyum kecil mendengar suaranya bergema lewat pengeras suara...
"Awohuakbal..awohuakbal..."
"Awooohuakbal..awooohuakbal..."
"Asaduala illaha ilawoh..."
"Asaduala illaha ilawoh..."
Sakit... Perih... Saya tidak kuat mendengar setiap kali kejadian itu terjadi. Dan ia selalu mengambil air wudhu setiap waktu shalat sudah tiba. Tapi ternyata, proses mengambil air wudhu pun tidak selancar yang ia harapkan. Ketika berwudhu, secara refleks ia membuang gas tanpa bisa ia kontrol. Ia seringkali menangis dan memuku bokongnya sendiri sambil mengulang wudhunya. Tetapi hal yang sama masih saja terjadi. Akhirnya dengan tangis dan kesal ia sering mengeluarkan kalimat, "Ya awoh...Abib gamau kaya gni. Abib ngen solat kya tmen-tmen abib."
Begitulah ia, super sekali!

Habib, sosok laki-laki tegar. Bahkan ia tidak pernah mengeluh setiap kali diminta untuk membersihkan setiap sudut ruangan. Saya malu menjadi sepupu perempuan sekaligus cucu pertama dan anak pertama dalam keluarga. Habib berhasil menampar saya dengan kerajinannya. Setiap kali orang tuanya meminta ia untuk mengepel seluruh ruangan, ia mengerjakan perintah tersebut dengan ikhlas. Ia menyapu, mencuci mobil, mebersihkan alat-alat musik, dan semuanya. Gila! Bahkan saya kalah hingga saat ini.

Ada satu kejadian lagi, dulu ketika sedang ada peringatan hari besar islam di masjid, ia tiba-tiba naik ke panggung dan berkata "Assalamualaikum waohmatulohi wabokatuh, yang telomat bapak ibu..."
Tetapi, ayahnya langsung memintanya untuk turun dan memberi pengertian bahwa ia hanya sebagai penonton bukan pengisi acara. Lucu mengingat hal itu. Tapi lagi-lagi saya terpukul dan ingin melihat ia seperti anak-anak normal lainnya.

Oia, Habib mempunyai dua orang adik laki-laki. Keduanya alhamdulillah normal dan pintar. Walaupun keadaan itu tidak membuat Habib merasa lebih baik, karena harus serumah dengan orang yang normal yang seharusnya sama dengannya. Tapi lagi-lagi Habib tidak pernah merasa iri kepada kedua adiknya. Dia bukan hanya berhasil menjadi anak yang patuh, melainkan kakak yang sabar dan bijaksana.

Kini, ia sudah SMA/MTS. Banyak kejadian yang sudah ia alami. Bahkan sakit hati karena ditinggal perempuan yang ia sukai pun sudah. Padahal, hanya perempuan itu yang bisa menerima keadaan dia yang sekarang. Ia seringkali bertanya kepada ibunya, "Mbu, apa nnti Abib bisa unya istli?" Ibunya selalu menjawab, "Jodoh itu sudah diatur sama Allah bib. Habib tenang aja, pasti nanti ada yang bisa menerima Habib apa adanya."
Ah... Habib. Kalau saja kekurangan itu tidak ada, saya yakin kamu sudah menjadi lelaki yang disukai banyak wanita. Hidungmu mancung seperti orang Arab. Hahaha.. jauh beda dengan sepupu perempuanmu ini. Badanmu tinggi tegap, alis tebal dan mata tajam. Subhanallah bib, Allah itu sayang kamu.

Tapi, saking sibuknya saya di kampus sekarang ini, saya sampai tidak menyadari bahwa saya sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi dengan Habib walau rumah kami bersebelahan. Ternyata, ia pun rindu dengan saya. Ia selalu bertanya pada ibunya, "teh ayu mana?" tapi saya tidak kunjung ada. Awal mula kita berbicara ketika puasa bulan lalu. Ia bertanya seperti ini, "Teh, apa kabal? Abib dengel teteh uka main teatel ya?"
Subhanallah, bahkan saya sendiri tidak tahu Habib suka apa akhir-akhir ini. Aku menjawab, "Iya bib. Ko Habib tau?hehe... teteh aktor loh sekarang." Bisa-bisanya saya sombong di depan dia!Grrhh...
"Teh, abib suka sama dlama. Abib mau tanya, bagaimana seseolang bisa belmain drama dengan baik. Apa yang halus meleka pelajali. Kalena abib sadal, belmain dlama itu tidak mudah." JEGEEEEER!!! Saya tercengang dan refleks berkata, "Bib, kita udah ga pernah ngobrol lagi. Teteh sampe kaget habib bisa nanya kaya gini. Oke..teteh jawab, hal-hal yang harus dilakukan oleh seseorang dalam bermain drama adalah.. blaa..blaa...blaaa..." Dia tersenyum dan masih bertanya, "Teh, abib ga dapet kelompok dlama. Meleka bilang abib ga bisa. Telus gimana Abib buktiin ke meleka kalau abib bisa? Tapi Abib tetep baca-baca buku ko teh." Ya Allah... Subhanallah... Habib, sabar yah sayang...:(( Akhirnya, saya menjawab, "Bib, habib tau ga teteh cuma bisa main drama sama baca puisi aja?" dia jawab, "ga teh..". Saya langsung melanjutkan, "Sekarang teteh tanya sama Habib, Habib bisa apa?", dia menjawab "Abib bisa nuis puisi teh. Kemalin abib smsin temen-temen Abib dan temen-temen abib pada nangis baca puisi abib teh...". Haru, tapi saya harus melanjutkan dialog ini, "Nah! Itu dia bib! Habib tau, teteh paling oon kalau disuruh nulis puisi.hahaha... Teteh cuma bisa baca puisi aja bib! Kan teteh cuma manusia bib. Ga ada yang sempurna dan masing-masing memiliki keterbatasan. Perlu habib tau, kemampuan berbahasa seseorang itu ada empat. 1. Mendengarkan, 2. Berbicara, 3. Membaca, 4. Menulis. Kita tidak harus mahir semuanya Bib. Saran teteh, Habib lanjutkan menulis. Kalau memang ga bisa di kertas, habib ketik di komputer. Kumpulin puisi Habib, nanti teteh kasih ke dosen teteh. Gimana?:)" Ada senyum cerah mengembang dari wajahnya yang lugu. Dia semangat dan ingin terus menulis. Ya Rabb, inikah cara engkau memberikan sebuah kebahagiaan? Berliku namun pasti. Bahkan saat ia seharusnya sibuk dengan pacar seperti anak lainnya, ia malah sibuk untuk terus beribadah dan mengasah potensinya hanya untuk mengurangi segala hal yang kurang dalam dirinya. Terima kasih atas segalanya. Bahkan kini, ia belum mengenal apa itu cinta, Mungkin beberapa tahun lagi, ia akan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya.

Habib Gusti, akulah sepupumu yang tak bisa apa-apa. Tidak seperti engkau malaikat dalam kehidupan. Engkau bebas dari dosa karena memang engkau tidak pernah melakukan apa-apa. Berbohong pun kau tidak bisa. Habib, tetaplah menjadi suri tauladan yang baik untuk kedua adikmu. Biarkan orang berkata apa, teruslah bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan impian itu.

Kami semua menyayangimu...:"))

0 komentar:

Posting Komentar