1 komentar

Kejujuran hati dari pelita hati di 7.5... ((y)ˆ ⌣ˆ)(y)

Oleh: Ayu Puspa Nanda



Kesan dan pesan, dua kata yang memiliki pengaruh besar bagi siapapun yang membacanya, dan inilah kejujuran hati mereka, murid-muridku di kelas 7.5... ( ˆ⌣ˆ )

Ibu sayang kalian... Terima kasih atas cinta dan segalanya....


Sarah: "Ibu Ayu kalau ngajar sabar, lucu, gaul banget lagi! pokoknya sesuatu deh! Ibu Ayu, kalo ibu udah gak ngajar di sini lagi jangan lupain kita ya bu, dan semoga bu Ayu lulus dengan nilai yang baik. Bu Ayu jangan lupain 7.5 ya bu. Kalau bisa, ibu sering main ya ke 7.5.hehehe..:D Buat kita ibu the best deh! Sesuatu! Bu, longlast yah sama tunangannya Pak Abdul Aziz. Amin. We love you bu Ayu..."

Riski: "Asik cara ngajarnya, tapi agak keras. Pokoknya cepet masuk otak. Bu Ayu orangnya gaul & asik. Saya doain supaya lulus dan sukses. Aaaaammmmiiiinnnnn...."

Fitria: "Seneng dech...!!! Belajar sama bu Ayu. Bisa bercanda, ketawa-ketawa, bahkan curhat. Pokoknya seru banget dech... Tapi kadang-kadang suka sedih mgeliat bu Ayu manyun karna anak-anaknya bandel-bandel banget. Cape dech!! ^_^


Randhika: "Setiap bu Ayu mengajar di kelas VII sangat enak, seru, dan baik. Meskipun saya sering diledeki tetap baik. Jangan lupa kelas VII.5 bu...


Vanny: "Ibu tuh kalo ngajar bawel, tapi tetep asik sih + gokil!!! Semoga ibu sukses, tambah cantik!!! Terus ibu tuh kalo ngajar sesuatu bangetd, hahaha.... udah kaya Syahrini ajh!!! Keep smile ^_^


Rafli: "Asik cara ngajarnya, tai kadang kalo lagi marah suka ngebetein. Tapi paling enak diajar bu Ayu pas lagi baca dongeng. Bu Ayu tuh ekspresinya bagus. Tapi bu Ayu sering marahin saya. Saya udah maafin kok bu. Sebenarnya tuh bu Ayu orangnya baik, asik. Yaudah sukses yah buat bu Ayu. Makasih telah membimbing saya dari awal sampai sekarang dan jangan pernah lupain kenangan anak 7.5."



Nabila: "Saya senang kalau ibu gak cemberut! Soalnya ibu jadi jelek kalau cemberut! Saya juga senang punya guru yang gaul kaya ibu gituh!hehe... Walaupun ibu sudah gak ngajar lagi di sini. Inget saya terus ya!"


Zulfani: "Ibu kalau lagi mengajar serius, lucu, imut. Mudah-mudahan ilmu yang ibu berikan bermanfaat bagi kita semua. Ibu Ayu kalau lagi ngajar jutek, tapi seru dan bikin tertawa. Jangan lupa sama anak 7.5. Selalu chatingan biar tidak lupa. Mudah-mudahan ibu Ayu lulus kuliah dengan sempurna. Amin. Mudah-mudahan selalu ingat dengan SMP 118 Jakarta. Semoga sukses!"


Dzikrina: "Bu Ayu itu kalau ngajar gawl banget dan pokoknya sesuatu banget ^_^. Bu Ayu kalau udah ninggalin 118 jgn lupain kita... dan semoga bu Ayu lulus kuliah dengan hasil yang memuaskan. Amiinn..."


Fahri: "Gue tau bu Ayu orangnya asik, baik, walau ngajarnya terlalu cepat. Gue doain bu Ayu biar lulus dan sukses... Walau bu Ayu suka ngomel sama gue, tetapi gue tau karena gue bawel!! Semoga sukses. Amiinn..."


Ilmi: "Saat pertama bu Ayu mengajar di kelas 7-5, aku merasa sangat senang ^_^ karena bu Ayu walaupun murid anak laki-laki nakal suka bikin jengkel tapi bu Ayu tetap sabar. Mudah-mudahan bu Ayu bisa ngajar di kelas kita lagi. Terima kasih bu Ayu!"


Kemal: "Bu Ayu baik tetapi tidak jarang juga dia marah kepada anak yang berisik. Tetapi saya tetap senang bu Ayu bisa mengajar di sini. Semoga bu Ayu lulus. Amiiinnnnn....  Tetapi bu Ayu harus doakan saya juga bu, biar saya bisa mengerjakan UAS 1."


Fyrial: "Selama bu Ayu mengajar di kelas VII.5, setiap masuk kelas moodnya selalu ga enak. Kadang-kadang happy, kadang high angry. Kadang saya kesal sampai gak mau sekolah. Bu, don't forget 7.5 class. Jangan banyak emosi. Next time main-main sama anak-anak 7.5. KEEP SPIRIT bu Ayu! Be the succesfull and best!"


Erlangga: "Walau bu Ayu suka ngomel sama w, tapi w tau karena w bandel. Semoga bu Ayu sukses. Amien."


Sherina: "Seru banget diajarin sama bu Ayu. Apalagi bu Ayu orangnya lucu. Aku ingin bu Ayu mengajar 7-5 lagi dan menjadi guru tetap di sini. Dan sering-sering kesini ya bu..."


Farhansyah Erlangga: "Selama bu Ayu  mengajar di kelas 7.5, setiap masuk kelas moodnya selalu ga enak, tapi kadang-kadang happy. Don't forget class 7.5"


Melinda: "Walaupun ibu kadang-kadang suka ngomel-ngomel, tapi pada akhirnya okay juga... Ibu seru dan rame banget kaya permen nano-nano. Ibu jangan lupain 118 dan kita ya... Pokoknya ibu kaya Mizone deh! be 100%"


Farel: "Selama ibu Ayu mengajar, ibu Ayu selalu memperhatikan anak-anak yang nakal, bu Ayu selalu mengajar dengan sangat baik. Jangan galak-galak ya bu..."


Ratna Auliya: "Sejak pertama bu Ayu masuk ke kelas 7.5, aku merasa senang dan bahagia. Berhari-hari bu Ayu mengajar, anak laki-laki suka menjengkelkan soalnya anak lakinya pada bandel. Bu Ayu jangan lupakan kita sewaktu ibu mengajarkan kita. Meskipun anak laki ngeselin tapi ibu tetap berusaha untuk anak laki-lakinya lebih baik lagi. Aku salut sama bu Ayu sewaktu ibu mengajar"


Arief: "Selama belajar sama bu Ayu, bu Ayu suka marah-marah. Tapi ga apa-apa, kita seneng diajarin sama ibu. Semoga sehat selalu. Jangan lupa minum susu bu biar tinggi."


Yolanda: "Akan menjadi sesuatu yang susah untuk dilupakan. Diajar sama bu Ayu asik dan seru banget. Jangan lupakan kita semua dan semoga ibu Ayu menjadi orang yang sukses."


Adit: "Kadang-kadang senang, kadang-kadang ga enak gara-gara dimarahin sama bu Ayu. Tapi ga apa-apa, semoga bu Ayu sukses dan sehat."


Devia: "Ibu seru sudah ngajar di kelas 7.5. Kadang bercanda kadang ngomel. Ibu pokoknya gaul dan gokil abis. Jangan lupai kita. Semoga ibu ngajar di kelas 7-5 lagi ya bu!"


Mega: "Saya pernah dihukum karena enggak nyatet jadi diomelin deh dan gak bisa ilang deh di hati. Jadi bisa inget mulu deh dan seru banget. Jangan pernah lupa sama kita bu.


Riska nur agustin: "Sejak bu Ayu masuk di kelas 7.5 aku merasakan senang dan bahagia tetapi walaupun anak laki-laki nakal bu Ayu tetap sabar mengajar. Bu ayu, kalau ngajar jangan galak..."


Mira: "Kalo diajarin sama bu Ayu itu menyenangkan soalnya kalo diajarin itu suka becanda, kadang marah karena anaknya suka bikin bu Ayu marah. Jadi kadang-kadang lucu,kadang-kadang marah.hehehe... Bu Ayu kalo udah ninggalin SMPN 118, jangan lupa sama anak kelas 7-5. Kita bakal belajar dengan baik lagi. Terus sering-sering ke 118 yah.."


Diekna: "Pertama kali bu Ayu masuk ke 7-5 aku merasa aman dan tenang, karena bu Ayu, 7-5 jadi aktif belajarnya. Aku senang bu Ayu yang mengajar di 7-5. Bu, maafkan kelas 7-5 yah kalau 7-5 bikin ibu jadi pusing dan kesal. Aku tidak tau harus bilang apa ke bu Ayu, tapi makasih untuk mengajar di 7-5. Love you bu Ayu...:)"


"Maafkan ibu jika selama mengajar kalian ibu seringkali memarahi kalian, terutama ketika awal-awal pertemuan. Tapi sejujurnya, ibu sayang kalian semua. Kalian itu teman, adik, sekaligus anak ibu... Entah mengapa, tulisan kalian inilah yang membuat ibu berat untuk meninggalkan kalian. Tapi, seburuk apapun ibu, ibu berharap kalian bisa memaafkan semua kesalahan ibu. Ibu berjanji, suatu saat nanti, ketika ibu mengajar lagi, ibu akan memperbaiki semuanya. Terima kasih atas segalanya. 7-5 yang ibu kenal sekarang jauh berbeda dengan 7-5 di awal bulan Juli. Kalian sudah pintar, kalian sudah bertambah dewasa, dan kalian yang membuat ibu bisa melalui segalanya. Ibu sayang kalian... Semoga silaturahmi tidak akan terputus sampai kapanpun...

Dengan cinta, ibu akan meninggalkan kalian. Tapi yakinlah, cinta itu akan tetap ada di hati kalian...:')"
2

Teredam dalam-dalam

Oleh: Ayu Puspa Nanda

Hasrat itu teredam dalam ketika saatnya semakin tiba
Rasa ingin angkat kaki secepatnya harus tertahan karena canda tawa
Ingin rasanya aku meraup muka dan menggantinya dengan topeng agar aku bisa selalu tersenyum
Walau di balik topeng itu aku menangis
Mungkin keras caraku,mungkin tegas gayaku
Namun kini, hati dan cinta kalian telah mampu meluluhkan kekerasan dan ketegasan itu
Tetapi aku tidak mungkin bertahan di sini, di ruang dengan banyak sekat dan jeruji
Aku harus tetap berlari mengejar angan dan mimpi
Desember bukan lagi kelabu
Melainkan haru
Aku malu jika melepaskan beban dengan menunjukan air mataku
Tetapi, betapa lancangnya aku jika beban itu kulepas dengan tawaku
Mungkin, hanya cinta dan kasih yang memang pantas untuk dilepaskan kala itu

Tiga kelas juara, tiga kelas pusaka....
Ibu sayang kalian semua...
0

Dejavu

Oleh: Ayu Puspa Nanda

Klik satu demi satu
Amati satu demi satu
Dan akhirnya, kenangan itu tersusun kembali seperti buku yang sudah teronggok beberapa waktu
Sama persis! Tanpa kurang suatu apapun!
0

Dia adalah Habib Gusti

Oleh: Ayu Puspa Nanda


Assalamualaikum...
Di blog ini, saya ingin menceritakan seseorang yang super dalam keluarga saya. Mungkin sebagian dari anda menebak orang yang saya maksud adalah orang tua saya. Tapi maaf, dugaan anda salah. Hal ini bukan berarti orang tua saya bukanlah orang yang super. Mereka memang super di hati saya. Tapi untuk saat ini, gelar super tersebut saya dedikasikan untuk sepupu laki-laki saya, Habib Gusti.


Habib atau Teguh. Entah sejak kapan nama itu berganti, seingat saya dulu ada yang pernah berdalih "Habib seperti ini, karena makna namanya terlalu berat." Namun, apalah arti sebuah nama. Hingga detik ini saya pun tidak percaya. Mungkin di antara anda lagi-lagi bertanya, mengapa saya menyebutkan "seperti ini" di awal kalimat. Baiklah, sudah saatnya saya mengungkapkan hal ini pada anda semua. Habib Gusti, seorang anak laki-laki yang teguh pendirian yang merupakan cucu kedua dari nenek dan kakek saya. Ia merupakan saudara sepupu laki-laki pertama yang menemani saya bermain sejak kecil. Saya lupa kapan ia lahir, tapi kalau tidak salah tanggal 2 April 1995 ia dilahirkan dari rahim ibunya dan tumbuh menjadi anak yang sehat. Ia lucu, gemuk, putih, dan manis. Tetapi, ketika ia sudah berusia 5 bulan, kami melihat adanya kejanggalan-kejanggalan pada dirinya. Ia sering menangis secara tidak wajar dengan suara yang sangat kencang. Ia pun sulit untuk berjalan waktu itu, dan ia mudah sekali tersinggung. Beberapa kali ia sering terjatuh dari tempat tidur. Dan parahnya, ia pun pernah jatuh dari tangga dan kakinya terselip diantara pegangan tangga, kalau tidak salah ketika ia sudah berusia satu tahun atau dua tahun. Waktu itu, saya hanya bisa melihat ia terjepit di tangga dari jendela kamar mama saya. Tetapi sebelum kejadian itu terjadi, Habib memang selalu mengeluarkan air liur dengan tidak disengaja dan hal itu selalu membuat baju-bajunya basah. Bahkan ketika ia belajar menulis, buku-bukunya selalu robek karena air liurnya sendiri. Oleh karena itu, mamanya selalu menyiapkan handuk kecil untuknya. Awalnya keluarga berpikir ini wajar, tapi lama-kelamaan air liur itu seringkali berbau. Dan ketika ia mulai tumbuh gigi, ternyata giginya lunak dan tidak keras seperti anak kebanyakan. Ia selalu menangis setiap kali ibunya menyikat gigi-giginya yang rapuh dan selalu mengeluarkan darah. Dulu, saya bukan orang yang terlalu paham akan kesakitan orang lain, bahkan saya tidak bisa merasakan kesakitan yang dialami sepupu saya itu. Ayahnya yang tahu tentang keadaan anaknya akhirnya membuat sekolah yang terdiri dari TK/RA, MI, MTS, dan MA. Hal ini tidak lain hanya untuk Habib semata, ia tidak mau anaknya dimasukan ke sekolah-sekolah luar biasa yang memang memiliki siswa yang rata-rata terganggu pikirannya. Ayahnya yakin, Habib berbeda. Habib itu cerdas, sama seperti anak lainnya.


Ketika ia TK/RA, saya ingat pernah mengajarinya menulis kala itu. Saya dulu masih duduk di bangku SD. Saya mengajari Habib bagaimana menulis huruf-huruf alfabet, bagaimana cara menggambar, dan membuat hal-hal lucu yang bisa membuatnya senang. Dulu, saya akui, sudah ada puluhan buku yang sobek begitu saja karena air liurnya. Saya pun tak jarang terkena air liurnya ketika sedang mengajarinya menulis. Tetapi, semangat Habib membuat saya selalu ingin bermain dengannya. Ia tidak malu untuk bertanya, walaupun ia tidak bisa berbicara dengan jelas. Misalnya begini, "teteh... yang ini gimana caranya?", orang-orang yang tidak sering bersamanya tidak akan mengerti apa yang sedang ia katakan, karena ia akan berbicara dengan kalimat yang berbunyi "eh... ang ni giyana cayana". Tapi, secara perlahan saya yang dulu masih sangat kecil berusaha untuk menjelaskan. Ku akui, dia memang cerdas. Dulu, ketika orang-orang belum mengenal komputer, kami berdua sudah pandai mengoperasikan komputer sejak tahun 1996. Bayangkan, betapa cerdasnya kami berdua waktu itu. Walaupun kami hanya bisa memainkan permainan-permainan sederhana dan mengetik satu demi satu huruf di layar cembung berwarna putih tersebut. Dan ketika saya kelas 4 SD, kira-kira tahun 1999, kami berdua berhasil meminkan permainan dari LOTUS dan menyelesaikan level-level sulit di sana. Bahkan kami selalu bermimpi, seandainya uang yang kami peroleh di permainan tersebut bisa keluar dari CPU, mungkin kami bisa langsung kaya!hehehe...


Semakin besar, ia sudah semakin sadar bahwa ia berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Saya pun sudah SMP dan sudah mulai jarang bermain dengannya, karena tugas yang selalu saja menumpuk setiap harinya. Ia tumbuh menjadi anak yang pemurung. Ia pun terlihat minder setiap kali bertemu dengan orang banyak. Ia seringkali bertanya pada ibunya, "mbu, enapa abib bgini?" Tapi ibunya pun seringkali sulit menjelaskan penyakitnya yang belum tau namanya apa. Yang jelas ibunya selalu berkata, "Ini pemberian dari Allah habib, dan Habib harus kuat dan sabar. Suatu saat Habib pasti sembuh. Percaya deh sama mbu."

Makin hari, keadaan ia semakin parah. Air liurnya bertambah banyak dan aromanya pun semakin tidak sedap. Ia pun sudah tumbuh besar dan menjalani kesehariannya sebagai murid SD/MI di sekolah ayahnya. Banyak orang yang mengucilkan dia. Bahkan hanya ada satu atau dua orang yang setia menemaninya saat bermain dan belajar di kelas. Melihat keadaan seperti ini, keluarga pun tidak tinggal diam. Kami membawa Habib ke dokter waktu itu. Dokter pun berkata, "Sarafnya terganggu. Harus dilakukan operasi." Kami semua kaget. Dan seingat saya, waktu itu kepala Habib dibelah dua. Otaknya dibersihkan, karena dokter bilang selain syaraf, ada lapisan orak yang sedikit mengerak di kepalanya. Bayangkan, tempurung kepala bagian belakang dibelah lalu dijahit kembali. Saya menangis waktu itu, melihat sepupu saya terbaring lemas dan berada di antara hidup dan mati. Tetapi ternyata Allah masih sayang. Ia berhasil melewati masa kritisnya. Alhamdulillah...

Kami berharap setelah operasi tersebut ia bisa sembuh dan berhasil menjalani hidupnya seperti anak-anak normal. Tetapi harapan kami berujung sia-sia. Ia semakin parah. Awalnya ia bisa berjalan normal, tapi kini ia selalu membanting tubuhnya ke belakang setiap 10 detik sekali. Ya Allah, cobaan apalagi ini. Saya pun pegal melihatnya. Saya seringkali melihat ia menangis di sudut ruangan. Tetapi Habib tetaplah Habib. Ia tumbuh menjadi anak yang rajin ibadah dan bekerja. Percaya atau tidak, ia paham setiap kali ayahnya memarahi ia dengan bahasa Arab atau Inggris. Kalau bukan cerdas, apalagi? Tapi, banyak keterbatasan yang harus ia lawan. Setiap jam shalat, ia seringkali ke mushola sekolah dan menjadi muadzin. Saya seringkali menangis sambil tersenyum kecil mendengar suaranya bergema lewat pengeras suara...
"Awohuakbal..awohuakbal..."
"Awooohuakbal..awooohuakbal..."
"Asaduala illaha ilawoh..."
"Asaduala illaha ilawoh..."
Sakit... Perih... Saya tidak kuat mendengar setiap kali kejadian itu terjadi. Dan ia selalu mengambil air wudhu setiap waktu shalat sudah tiba. Tapi ternyata, proses mengambil air wudhu pun tidak selancar yang ia harapkan. Ketika berwudhu, secara refleks ia membuang gas tanpa bisa ia kontrol. Ia seringkali menangis dan memuku bokongnya sendiri sambil mengulang wudhunya. Tetapi hal yang sama masih saja terjadi. Akhirnya dengan tangis dan kesal ia sering mengeluarkan kalimat, "Ya awoh...Abib gamau kaya gni. Abib ngen solat kya tmen-tmen abib."
Begitulah ia, super sekali!

Habib, sosok laki-laki tegar. Bahkan ia tidak pernah mengeluh setiap kali diminta untuk membersihkan setiap sudut ruangan. Saya malu menjadi sepupu perempuan sekaligus cucu pertama dan anak pertama dalam keluarga. Habib berhasil menampar saya dengan kerajinannya. Setiap kali orang tuanya meminta ia untuk mengepel seluruh ruangan, ia mengerjakan perintah tersebut dengan ikhlas. Ia menyapu, mencuci mobil, mebersihkan alat-alat musik, dan semuanya. Gila! Bahkan saya kalah hingga saat ini.

Ada satu kejadian lagi, dulu ketika sedang ada peringatan hari besar islam di masjid, ia tiba-tiba naik ke panggung dan berkata "Assalamualaikum waohmatulohi wabokatuh, yang telomat bapak ibu..."
Tetapi, ayahnya langsung memintanya untuk turun dan memberi pengertian bahwa ia hanya sebagai penonton bukan pengisi acara. Lucu mengingat hal itu. Tapi lagi-lagi saya terpukul dan ingin melihat ia seperti anak-anak normal lainnya.

Oia, Habib mempunyai dua orang adik laki-laki. Keduanya alhamdulillah normal dan pintar. Walaupun keadaan itu tidak membuat Habib merasa lebih baik, karena harus serumah dengan orang yang normal yang seharusnya sama dengannya. Tapi lagi-lagi Habib tidak pernah merasa iri kepada kedua adiknya. Dia bukan hanya berhasil menjadi anak yang patuh, melainkan kakak yang sabar dan bijaksana.

Kini, ia sudah SMA/MTS. Banyak kejadian yang sudah ia alami. Bahkan sakit hati karena ditinggal perempuan yang ia sukai pun sudah. Padahal, hanya perempuan itu yang bisa menerima keadaan dia yang sekarang. Ia seringkali bertanya kepada ibunya, "Mbu, apa nnti Abib bisa unya istli?" Ibunya selalu menjawab, "Jodoh itu sudah diatur sama Allah bib. Habib tenang aja, pasti nanti ada yang bisa menerima Habib apa adanya."
Ah... Habib. Kalau saja kekurangan itu tidak ada, saya yakin kamu sudah menjadi lelaki yang disukai banyak wanita. Hidungmu mancung seperti orang Arab. Hahaha.. jauh beda dengan sepupu perempuanmu ini. Badanmu tinggi tegap, alis tebal dan mata tajam. Subhanallah bib, Allah itu sayang kamu.

Tapi, saking sibuknya saya di kampus sekarang ini, saya sampai tidak menyadari bahwa saya sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi dengan Habib walau rumah kami bersebelahan. Ternyata, ia pun rindu dengan saya. Ia selalu bertanya pada ibunya, "teh ayu mana?" tapi saya tidak kunjung ada. Awal mula kita berbicara ketika puasa bulan lalu. Ia bertanya seperti ini, "Teh, apa kabal? Abib dengel teteh uka main teatel ya?"
Subhanallah, bahkan saya sendiri tidak tahu Habib suka apa akhir-akhir ini. Aku menjawab, "Iya bib. Ko Habib tau?hehe... teteh aktor loh sekarang." Bisa-bisanya saya sombong di depan dia!Grrhh...
"Teh, abib suka sama dlama. Abib mau tanya, bagaimana seseolang bisa belmain drama dengan baik. Apa yang halus meleka pelajali. Kalena abib sadal, belmain dlama itu tidak mudah." JEGEEEEER!!! Saya tercengang dan refleks berkata, "Bib, kita udah ga pernah ngobrol lagi. Teteh sampe kaget habib bisa nanya kaya gini. Oke..teteh jawab, hal-hal yang harus dilakukan oleh seseorang dalam bermain drama adalah.. blaa..blaa...blaaa..." Dia tersenyum dan masih bertanya, "Teh, abib ga dapet kelompok dlama. Meleka bilang abib ga bisa. Telus gimana Abib buktiin ke meleka kalau abib bisa? Tapi Abib tetep baca-baca buku ko teh." Ya Allah... Subhanallah... Habib, sabar yah sayang...:(( Akhirnya, saya menjawab, "Bib, habib tau ga teteh cuma bisa main drama sama baca puisi aja?" dia jawab, "ga teh..". Saya langsung melanjutkan, "Sekarang teteh tanya sama Habib, Habib bisa apa?", dia menjawab "Abib bisa nuis puisi teh. Kemalin abib smsin temen-temen Abib dan temen-temen abib pada nangis baca puisi abib teh...". Haru, tapi saya harus melanjutkan dialog ini, "Nah! Itu dia bib! Habib tau, teteh paling oon kalau disuruh nulis puisi.hahaha... Teteh cuma bisa baca puisi aja bib! Kan teteh cuma manusia bib. Ga ada yang sempurna dan masing-masing memiliki keterbatasan. Perlu habib tau, kemampuan berbahasa seseorang itu ada empat. 1. Mendengarkan, 2. Berbicara, 3. Membaca, 4. Menulis. Kita tidak harus mahir semuanya Bib. Saran teteh, Habib lanjutkan menulis. Kalau memang ga bisa di kertas, habib ketik di komputer. Kumpulin puisi Habib, nanti teteh kasih ke dosen teteh. Gimana?:)" Ada senyum cerah mengembang dari wajahnya yang lugu. Dia semangat dan ingin terus menulis. Ya Rabb, inikah cara engkau memberikan sebuah kebahagiaan? Berliku namun pasti. Bahkan saat ia seharusnya sibuk dengan pacar seperti anak lainnya, ia malah sibuk untuk terus beribadah dan mengasah potensinya hanya untuk mengurangi segala hal yang kurang dalam dirinya. Terima kasih atas segalanya. Bahkan kini, ia belum mengenal apa itu cinta, Mungkin beberapa tahun lagi, ia akan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya.

Habib Gusti, akulah sepupumu yang tak bisa apa-apa. Tidak seperti engkau malaikat dalam kehidupan. Engkau bebas dari dosa karena memang engkau tidak pernah melakukan apa-apa. Berbohong pun kau tidak bisa. Habib, tetaplah menjadi suri tauladan yang baik untuk kedua adikmu. Biarkan orang berkata apa, teruslah bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan impian itu.

Kami semua menyayangimu...:"))
11

Terima kasih untuk cinta hari ini...

Oleh: Ayu Puspa Nanda

Sudah dua hari saya mendapat tugas mengajar musikalisasi puisi di kelas 9. Huh, untung dalam sekejap saja saya berhasil membuat mereka langsung terpesona dan mengutuk mereka menjadi siswa yang haus akan ilmu. Awalnya mereka anggap musikalisasi puisi merupakan suatu hal asing namun mudah yang dapat mereka buat hanya dengan sekejap mata. Tapi nyatanya, kini mereka sadar betapa sulitnya membacakan sebuah puisi dengan indah sekaligus membuat aransemen musik serta lagu dari kalimat di tiap bait puisi.

Tetapi, dua hari ini terasa padat sesak. Setiap ada jam kosong, mereka selalu datang sambil tersenyum dan bertanya, "Ibu, kelompok saya memilih puisi yang ini. Bagaimana cara membacanya bu?" atau dengan kalimat seperti ini, "Bu, puisinya sudah kami pilih. Ternyata buat lagunya itu susah yah bu. Tapi kita mau tetap coba ko bu."  Bukan hanya satu dua orang yang menghampiri, bahkan setiap perwakilan kelompok dari tiap kelas datang hanya untuk melihat saya membaca puisi. Mereka selalu tersenyum dan semakin bergairah untuk belajar. Mengajar kelas 9 memang bukan tugas saya sebagai guru PPL. Karena, tugas saya dan teman-teman hanyalah mengajar kelas 7 dan 8. Tapi seminggu ini, saya mengikhlaskan semuanya untuk mentransfer sedikit ilmu kepada siswa. Saya merasakan kebahagiaan ketika melihat mereka antusias belajar Bahasa Indonesia. 


Saya bisa dibilang guru PPL yang tegas. Terutama di kelas 7. Hmm... Menghadapi kelas 7 seperti mengejar anak kecil yang sedang berlarian di taman. Sikap lembut saja tidak cukup. Bahkan, kelas 7 yang saya ajar dikenal sebagai kelas yang sangat-sangat-sangat. Untuk tersenyum selama dua jam pelajaran pun selalu gagal. Mereka hanya bisa mengantarkan senyuman saya dari ruang guru hingga pintu kelas mereka. Tetapi dua jam pelajaran di kelas 8 dan 9 sangatlah berbeda. Atmosfer kelas yang berwarna abu-abu seketika bisa saya buat menjadi biru. Begitu pula dengan kelas 8. 

Sejujurnya, segala cara sudah saya upayakan. Hal itu akan berhasil jika saya harus memberikan ceramah umum kepada mereka kurang lebih 10 menit di awal pembelajaran. Tapi, kapan saya bisa mengajar dengan tenang. Kejadian dua hari inilah yang membuat miris keadaan. Dua jam pelajaran di kelas 9 saja bisa saya taklukan, namun mengapa hal ini tidak berlaku di kelas 7 yang sudah dua setengah bulan saya ajar.

Tetapi, di balik itu semua, saya mencintai mereka. Kelas 7.4, 7.5, dan 8.1. Hari ini, kelas 7.5 bisa membuat saya tersenyum karena kreatifitas mereka. Terima kasih karena telah membuat ibu puas akan kinerja kalian dalam bercerita menggunakan alat peraga. Hari ini kalian lucu. Pertahankan sikap ini sampai kita akhirnya berpisah nanti. November tidak akan lama, dan Desember mungkin kita sudah tak lagi bersama.